Resensi Pendek “Dunia Sophie”
“Dunia Sophie”
Sebuah Novel Filsafat
Pengarang asli: Jostein Gaarder
Resensi Oleh: Yossa MP
Dalam novel karya Jostein Gaarder, berceritakan tentang seorang gadis, Sophie Amundsend namanya, berusia 13th. Ia dilanda ketidak pastian. Ketidak pastian tentang siapa yang mengiriminya surat-surat yang mempertanyakan, “Siapakah kamu”? Itulah awal mula ia belajar filsafat. Kemudian Sophie belajar filsafat dengan cara bersurat-menyurat kepada guru Filsufnya yang misterius itu.
Hal pertama yang ia perlajari adalah yaitu mengenal dirinya sendiri, menerima dirinya apa adanya dan tidak berpura-pura menjadi orang lain. Karena setiap orang pada dirinya sendiri adalah unik dan aku bilang semacam anugerah. Bayangkan kalau setiap orang di dunia ini berparas dan berpenampilan sama. Apa yang membedakannya?
Kau tahu, rasanya tidak ada yang istimewa. Maka dari itu kamu adalah kamu, dan lakukanlah hal yang menjadi bagian hidupmu. Mungkin kamu sedang bersekolah, bekerja, maka lakukanlah dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Dan satu lagi, berikanlah apa yang kau bisa lakukan baik atas dunia ini. Itu saja.
Kau tahu, rasanya tidak ada yang istimewa. Maka dari itu kamu adalah kamu, dan lakukanlah hal yang menjadi bagian hidupmu. Mungkin kamu sedang bersekolah, bekerja, maka lakukanlah dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Dan satu lagi, berikanlah apa yang kau bisa lakukan baik atas dunia ini. Itu saja.
Lalu selanjutnya adalah pertanyaan “Dari mana datangnya dunia?” Apakah kau tahu? Sophie pun juga sedang berpikir. Sophie meragukan dan sepertinya tidak tahu persis dari mana datangnya dunia. Mungkinkan segala sesuatu itu selalu ada. Dan apakah mungkin segala sesuatu itu ada mulanya. Seperti pada manusia kebanyakan ketahui adalah Tuhan adalah yang menciptakan segala sesuatu. Lalu, dari manakah asal Tuhan itu? Apakah Ia menciptakan dirinya sendiri? Ini adalah semacam teka-teki besar tentang alam raya.
Sophie mendapat surat lagi, kini didepan tertulis Hilde Moller Knag, d/a Sphie Amundsend, 3 Clover Close dan diberi cap pos Batalyon PBB. Tambah rumit saja. Sungguh hari yang baik, mendapat surat misterius, pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya pusing, dan siapakah Hilde Moller Knag itu?
Joanna adalah sahabat Sophie, ia sepantaran dengan Sophie. Joanna juga bingung dengan sikap Sophie belakangan ini. Ia menjadi tidak bergairah dengan permainan badminton dan kartu. Seperti ada hal yang amat sangat penting bagi Sophie. Ya, tentu itu. Sophie menjadi disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai siapakah dirinya, dan dari mana datangnya dunia? Pelajaran disekolah yang diberikan gurunya bagai tidak penting untuknya. Sophie berpikir, mengapa tidak membicarakan siapakah manusia itu, atau tentang apakah dunia itu dan bagaimana ia manjadi ada? Itu jauh lebih penting dari pada harus menghafal perubahan bentuk kata-kerja tak beraturan. Orang-orang terlalu mengurusi hal-hal yang remeh, sesungguhnya ada hal-hal besar yang mustinya harus dipecahkan. Adakah diantara kalian yang bisa menjawab dari mana datangnya dunia, dan bagaimana ia manajadi ada?
Dan awal mula pelajaran filsafatnya dimulai. Sophie mendapat surat lagi, dengan pertanyaan; “Apakah Filsafat itu?”
Para Filosof itu juga manusia, yang adalah mahluk yang berpikir, juga tidak semua orang adalah filsuf. Filsafat muncul dikarenakan rasa ingin tahu manusia akan hidup dan kehidupan. Maka pertanyaan-pertanyaan filosofis muncul dengan sendirinya. Terlepas dari setiap orang mempunyai kebutuhannya masing-masing. Kebutuhan untuk menjadi seorang yang berarti atau keinginan-keinginan tercapai dan segala kebutuhan hidupnya.
Kebanyakan orang dewasa telah menganggap duni sebagaimana adanya. Mereka telah membiarkan diri terbuai dalam tidur yang memabukkan dari eksistensi mereka yang membosankan. Mereka telah menjadi begitu terbiasa dengan dunia sehingga tidak ada lagi yang membuatnya heran. Heran dengan adanya dunia dan bahkan Tuhan. Apakah Tuhan menciptakan dirinya sendiri atau segala sesuatu berawal dari ketiadaan atau ada.
Sophie merasa terlalu bosan dengan sekolahnya. Lebih menggebu dengan pelajaran filsafatnya bersama guru filsuf misterius yang mengirimkannya surat didalam amplop coklat dengan namanya yang tertera disana, yang selalu diletakkan di kotak pos.
Sekarang kita bicara tentang mitologis dunia. Gambarannya begini, filsafat merupakan cara berpikir yang sama sekali baru yang berkembang di Yunani sekitar enam ratus tahun sebelum kelahiran Kristus. Masa itu semua pertanyaan-pertanyaan manusia dijawab oleh berbagai agama. Penjelasannya disampaikan dari generasi ke generasi dalam bentuk mitos. Seperti contohnya Thor dan palunya, mungkin anda pernah mendengar mitos mengenai Thor. Pada jaman itu, orang-orang Skandinavia percaya bahwa dewa Thor-lah yang memberikan hujan dengan mengayunkan palunya, lalu terjadi guntur dan halilintar, yang membuat hujan turun untuk menyuburkan segala tanaman-tanaman di ladang, gandum dan tanah. Lalu disaat kekeringan melanda, mereka percaya palu Thor dicuri oleh para raksasa-raksasa.
Nah, mitos-mitos seperti itulah yang berasal dari pemikiran-pemikiran orang-orang pada jaman itu yang menjadikan itu sebagai dongeng. Karena tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana proses iklim alam, bagaimana matahari terbit, bagaimana datangnya hujan, itu semua sebelum adanya yang disebut dengan ilmu sains. Begitu juga dengan mitos-mitos lainnya seperti di Yunani adalah Zeus, Apollo, Hera, Athena, Dionysos, Asklepios, Herakles dan Hephaestos.
Beberapa filosof hidup dijaman yang berbeda-beda. Sangat disayangkan bahwa pada masa lampau perempuan direndahkan, baik sebagai perempuan maupun sebagai makluk pemikir. Maka sangat jarang, bahkan tidak ada dalam sejarah filsuf adalah perempuan.
Filosof Alam
Filosof Yunani paling awal disebut dengan filosof alam. Sebab mereka hanya fokus kepada alam dan proses-prosesnya.
Filsuf dari Miletus ialah Thales, Anaximander, Anaximenes. Thales berpendapat bahwa sumber dari segala sesuatu adalah air. Ia beranggapan seluruh kehidupan berawal dari air dan kembali berakhir menjadi air. Berikutnya adalah Anaximander, ia berpendapat bahwa dunia kita hanyalah salah satu dari banyak sekali dunia yang muncul dan sirna di dalam sesuatu yang disebutnya sebagai yang tak terbatas. Dan yang ketiga adalah Anaximenes, ia beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu pastilah “udara” dan “uap”. Seperti yang telah dikatakan Thales, bahwa segala sesuatu berawal dari air, tapi dari manakah air itu? Semuanya beranggapan pasti bahwa ada sesuatu zat dasar dari sumber segala sesuatu.
Tidak ada yang dapat muncul dari ketiadaan. Itulah anggapan dari Parmenides (kira-kira 540-480SM). Dia berpendapat bahwa indera-indera kita ini tidak memberikan gambaran yang pasti, sesuatu yang tidak sesuai dengan akal.
Berbeda dengan Parmenides, Heraclitus berpendapat segala “sesuatu terus mengalir”. Segala sesuatu mengalami perubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tidak ada yang menetap. Segala sesuatu yang merupakan sumber dari segala sesuatu, ia menyebutnya Tuhan atau logos, yang berarti akal. “Tuhan adalah siang dan malam, musim salju dan musim panas, perang dan damai, kelaparan dan kekenyangan”.
Antara Parmenides dan Heraclitus ada dalam satu hal mereka bertentangan, Parmenides mengungkapkan tidak ada sesuatu yang dapat berubah, sedangkan Heraclitus menegaskan bahwa alam selalu berubah. Jadi manakah yang paling benar? Apakah harus mendahulukan akal atau indra? Nah, didalam hal rumit ini Empedocles (kira-kira 490-430SM) berperan menguraikan kekacauan ini. Disatu sisi bahwa anggapan mereka adalah benar, namun di sisi lain mereka salah. Parmenides benar, keyakinannya akan tidak ada sesuatu yang berubah. Air murni tidak dapat berubah menjadi kupu-kupu misalnya. Namun, Heraclitus juga benar, apa yang kita lihat dengan indra bahwa alam berubah. Yang menjadi perselisihan adalah bahwa mereka memperdebatkan hanya satu unsur saja. Empedocles berpendapat bahwa alam itu terdiri dari empat unsur, istilahnya adalah tanah, udara, api, dan air. Pada dasarnya, tidak ada yang berubah. Yang terjadi hanya keempat unsur itu tergabung dan terpisah, --- untuk menjadi tergabung lagi.
Anaxagoras (500-428SM) filsul pertama dari Athena. Ia dituduh sebagai seorang ateis dan dipaksa meninggalkan kota. Ia mengatakan matahari bukanlah dewa melainkan sebuah batu merah-panas, yang lebih besar dari seluruh jazirah Peloponesia. Anaxagoras tidak setuju bahwa satu bahan dasar tertentu dapat diubah menjadi segala sesuatu yang kita lihat di alam. Dan ia juga tidak menerima pendapat bahwa tanah, udara, api, dan air dapat diubah menjadi darah dan tulang. Anaxagoras berpendapat alam diciptakan dari partikel-partikel sangat kecil yang jumlahnya tidak dapat dilihat mata. Bagian-bagian kecil itu menjadi bagian-bagian yang jauh lebih kecil lagi. Pada keseluruhan sebenarnya Anaxagoras lebih tertarik kepada astronomi, dia mempunyai penjelasan mengenai gerhana matahari. Filsuf alam terakhir adalah Democritus. Ia adalah seorang materialis, dia percaya pada atom dan luar angkasa. Gagasannya bahwa segala sesuatu terjadi secara mekanis.
Kedengarannya Sophie pun masih menyimak pelajaran Filsafatnya. Perlu pemahaman yang lebih besar dalam pelajaran filsafat ini. Sebagai bukti bahwa ia masih berusaha. Sebab orang yang pemahanan baik adalah orang yang mau berusaha, ia bukan seorang yang pintar, ia hanya perlu sedikit memaksa untuk berusaha. Setelah pada akhirnya sang guru memperkenalkan dirinya sebagai Alberto Knox. Hal lainnya, tetap saja surat yang menyatakan dari PBB di Lebanon oleh ayah Hilde itu semakin membingungkannya. Mana ada seorang ayah yang tega memberikan surat kepada anaknya dengan mengirimkan ke alamat orang lain yaitu Sophie sendiri yang sama sekali ia tidak mengenalnya. Dan Sophie memutuskan bahwa filsafat bukanlah sesuatu yang dapat kita pelajari; namun barangkali kita dapat belajar untuk berpikir secara filosofis.
Apakah anda percaya takdir? Sophie sepertinya juga meragukan bahwa adanya takdir. Orang-orang Yunani kuno sangat percaya kepada fatalisme. Fatalisme adalah kepercayaan kepada apapun yang terjadi telah ditentukan. Orang-orang dapat mengetahui nasib dari semacam ramalan, membaca nasib melalui kartu, tangan, atau meramal masa depan lewat bintang-bintang.
Satu lagi adalah Hippocrates, pendiri ilmu pengobatan dari Yunani. Jiwa yang sehat di dalam badan yang sehat; gagasan Hippocrates. Jika penyakit datang, menurut Hippocrates itu merupakan tanda bahwa Alam telah melenceng dair jalurnya dikarenakan adanya ketidakseimbangan fisik atau mental.
Tiga Filosof Besar
Kita mulai lagi dengan tiga filosof klasik besar, Socrates, Plato, dan Aristoteles. Para filosof ini mempengaruhi seluruh peradaban Eropa. Baiklah, Sokrates adalah tokoh paling penuh dengan teka-teki. Ia tidak pernah menulis sebalit kalimat pun. Kehidupan Socrates hanya dapat diketahui melalui tulisan-tulisan Plato, salah seorang muridnya. Socrates lebih berminat kapada masalah manusia ketimbang alam. Ia lebih memanfaatkan waktunya untuk berdiskusi dengan setiap orang yang ditemuinya di alun-alun Athena. Yang dapat ia pahami adalah bahwa ia tidak tahu apa-apa. Bukankah begitu? Seorang Filosof mengetahui bahwa sangat sedikit yang mereka ketahui.
Filosof sendiri yang berarti mencintai kebijaksanaan. Yang membedakan seorang filosof dan seorang guru disekolah adalah bahwa seorang guru merasa dirinya sudah tahu segala hal dan ajarannya hanya seperti menyuapi murid-muridnya dengan ajarannya. Sedangkan seorang filosof adalah bahwa ia sadar bahwa tidak banyak yang diketahuinya, maka ia mengajak untuk berdiskusi bersama murid-muridnya agar sama-sama saling belajar. Karena tidak ada yang lebih pintar dari yang lebih pintar dan dari yang jauh lebih pintar lainnya. Karena setiap manusia diwajibkan untuk memahami kehidupan dari hidup itu sendiri. Hal itu juga yang dilakukan oleh Socrates. Ia tidak menonjolkan dirinya paling bijaksana atau pintar. Ia hanya berdiskusi segala berbagai permasalahan. Ia juga memprotes peraturan atas hukuman mati pada orang yang didakwa pada era itu di Athena. Dan pada akhirnya Socrates ditakwa “memperkenalkan dewa-dewa baru dan merusak kaum muda,” serta tidak mempercayai dewa-dewa yang telah diterima. Hukumannya bisa dihapuskan dengar syarat bahwa ia harus pergi dari Athena. Tetapi Socrates lebih memilih tinggal, sebab jika ia pergi ia bukanlah Socrates. Kemudian ia meminum racun didepan sahabat-sahabatnya dan meninggal.
Kemudian Plato, ia adalah salah satu murid Socrates. Berkatnya, kita dapat mengenal siapa Socrates dan gagasannya dalam tulisan Plato. Plato juga mendirikan sekolah filsafat Yunani Academus. Karena itu sekolah dikenal sebagai akademi. Ia memakai metode diskusi sebagai caranya mengajar. Plato terlalu mengedepankan “ide-ide”, sehingga ia lupa memperhatikan perubahan-perubahan alam. Nah, beda dengan Aristoteles, ia sibuk memperhatikan perubahan-perubahan alam, yang disebut dengan proses alam. Aristoteles adalah filosof besar terakhir. Ia menjadi murid di Akademi Plato hampir dua puluh tahun. Aristoteles adalah ahli biologi besar Eropa yang pertama.
Yang dapat saya pelajari dari semacam sesi kuliah ini; Manusia adalah binatang yang berpikir. Jadi kalau manusia tidak berpikir sesungguhnya ia bukanlah manusia sungguhan. Kenapa disebut binatang yang berpikir? Manusia dan hewan sama-sama punya ekor, yang membedakannya hanya hewan menciut keluar sedangkan manusia menciut kedalam. Apa bedanya dengan sipanse? Lalu, di era modern seperti sekarang ini tujuan kebanyakan manusia adalah mementingkan kehidupan mereka sendiri tanpa berpikir akan tugas untuk menjaga alam dan melindungi alam. Justru manusia malah tidak menghargai alam, merusak hutan, merusak lahan hijau, membakar hutan, untuk demi kepentingan manusia, kepentingan ego tok. Justru, binatang saja menjaga dan melindungi hutan dan tumbuhan, lalu siapakah sebenarnya kita? Apakah level kita ini lebih rendah dari binatang?
Helenisme
Meninggalnya Aristoteles pada 322 SM saat itu Athena telah kehilangan peran dominannya. Pemberontakan-pemberontakan politik akibat penaklukan Alexander Agung (356-323 SM). Alexander adalah Raja Mecedonia. Ia salah satu murid dari Aristoteles. Alencander meraih kemenangan terakhir dan menentukan atas bangsa Persia. Ia menyatukan Mesir dan dunia timur hingga India dengan peradaban Yunani.
Ini merupakan tanda awal zaman peradaban baru dalam sejarah umat manusia. Kebudayaan dan Bahasa Yunani memainkan peranan utama. Kira-kira berlangsung selama 300 tahun dan dikenal sebagai Helenisme yang berarti periode atau kebudayaan di dominasi Yunani yang Berjaya untuk tiga kerajaan Yunani yaitu Macedonia, Syria, dan Mesir.
Meskipun demikian sejak sekitar 50 SM, Roma lambat-laun menaklukkan Yunani. Karena lebih kuat dalam bidang militer dan politik. Sejak itu kebudayan Romawi dan Bahasa Latin mendominasi mulai dari Spanyol hingga menembus Asia. Ini awal dari periode Romawi sebagai zaman Yunani Kuno Akhir.
Dalam peradaban baru, upaya untuk menemukan apakah kebahagiaan sejati itu dan bagaimana mencapainya. Inilah proyek filsafat yang utama. Kita akan segera mengenalnya.
Kaum Sinis
Betapa banyak benda yang tidak kuperlukan!?
Pertanyaan itu bisa jadi merupakan motto aliran filsafat Sinis yang didirikan Antisthenes di Athena sekitar 400 SM. Ia pernah manjadi murid Socrates dan dangat tertarik pada kesederhanaan. Kaum Sinis berpendapat bahwa kebahagiaan tidak terdapat kepada kewewahan materi atau kekuasaan atau kesehatan. Mereka percaya bahwa orang tidak perlu memikirkan kesehatan diri mereka, apalagi penderitaan dan kematian tidak boleh mengganggu mereka. Bahkan tidak boleh membiarkan diri tersiksa karena memikirkan kesengsaraan orang lain. Namanya Diogenes, ia adalah seorang murid dari Antisthenes. Konon ia hidup dalam tong dan tidak memiliki apapun kecuali mantel, tongkat, dan kantung roti. Ketika ia sedang berjemur di samping tongnya untuk menikmati sinar matahari. Kemudian Raja Alexander Agung datang berkunjung. Ia berkata apa yang dapat ia perbuat untuk membantu Diogenes. Lalu Diogenes berkata, bisakah kau bergeser sekikit, karena kau telah menghalangi sinar matahari. Istilah “sinis” dan “sinisme” yang berarti ketidakpercayaan yang mengandung cemooh pada ketulusan manusia, menunjukkan ketidakpekaan terhadap penderitaan orang lain. Yang berarti tidak mau susah.
Kaum Stoik
Kaum Stoik membentuk konsep “humanisme” yaitu suatu pandangan hidup yang menempatkan individu sebagai fokus utamanya. Mereka benar-benar “kosmopolitan”. Bahwa mudah menerima kebudayaan kontemporer. Memberikan perhatian pada persahabatan manusia, sibuk dengan politik. Meraka pikir bahwa ada sesuatu kebenaran universal, yang dinamakan hukum alam. Mereka menekankan semua proses alam, penyakit dan kematian, mengikuti hukum alam yang tak pernah lekang.
Kaum Epicurean
Motto kaum Epicurus adalah “Hidup untuk saat ini!” Negatifnya adalah seseorang yang hidup hanya demi kesenangan. Kaum Epicurus tidak menunjukkan minatnya kepada politik dan masyarakat. Hidup mereka hanya mengasingkan diri dan menikmati kesenangan. Mereka hidup hanya untuk diri mereka sendiri di “pelabuhan yang aman” jauh dari masyarakat. Filsafat pembebasannya adalah Dewa-dewa bukan utnuk ditakuti. Kematian tidak perlu dikhawatirkan. Kebaikan itu mudah dicapai. Ketakutan itu mudah ditanggulangi.
Neoplatinisme
Tokoh kaum Neoplatonisme adalah Plotinus (kira-kira 205-270). Plotinus membawa ke Roma suatu doktrin keselamatan yang bersaing keras dengan ajaran Kristen. Tapi juga memberi pengaruh kuat dalam aliran utama teologi Kristen. Segala sesuatu atau segala yang terjadi itu menyimpan sepercik misteri ilahi. Bayangkan kita sedang melihat bunga, ikan yang berenang, kupu-kupu yang terbang. Bukankan itu adalah misteri ilahi? Tetapi yang paling dekat dengan Tuhan adalah jiwa kita. Hanya disana kita dapat menjadi satu dengan misteri besar kehidupan. Dan kaum Neoplatonisme menyadari bahwa kita sendirilah misteri itu.
Pengalaman mistik adalah pengalaman menyatu dengan Tuhan atau “jiwa kosmik.” Mereka mengalami rasa “penyatuan dengan Tuhan”. Sebagian ahli mistik menyebutnya Tuhan, ada yang bilang ruh kosmik Alam, atau Semesta Raya. Ketika penyatuan terjadi, ahli mistik merasakan bahwa dia “kehilangan dirinya;” ia lenyap ke dalam diri Tuhan atau hilang di dalam diri Tuhan. Menyadari bahwa ia adalah sesuatu yang jauh lebih besar. “Kamulah semesta raya, sesungguhnya kamulah ruh kosmik itu sendiri. Kamulah yang “menjadi Tuhan”.
Nilai yang saya ambil dari para kaum-kaum leluhur adalah hidup bukanlah semata-mata untuk uang atau memuaskan keinginan daging, seperti kaum Epicurus. Atau tidak Walaupun itu juga diperlukan untuk bertahan hidup.
Renaisans dan Reformasi
Salah satu zaman besar kali ini yang akan kita bahas adalah zaman Renaisans berarti kelahiran kembali. Renaisans yang akan kita bahas adalah perkembangan budaya yg dimulai pada akhir abad keempat belas. Dimulai di Italia utara dan menyebar luas pada abad kelima belas dan enambelas.
Humanisme Renaisans
Renaisans menimbulkan pandangan baru tentang manusia. Hunamisme Renaisans membawa kepercayaan baru pada manusia dan nilainya. Bertentangan dengan abad pertengahan yg penuh prasangka pada hakikat manusia yg penuh dosa. Salah satu tokoh utama dari zaman Renaisans adalah Marsilio Ficino, ‘Kenalilah dirimu sendiri, wahai keturunan ilahi dalam samaran sebagai manusia’! Periode abad pertengahan, titik tolak selalu pada Tuhan. Kaum humanis zaman Renaisans mengambil titik tolak dari manusia itu sendiri. Humanisme Renaisans dikenal karena tekanannya pada individualism. Jadi kita bukan hanya umat manusia, kita adalah individu-individu yang unik. Contohnya pandangan baru mengenai manusia itu juga mewujudkan dirinya dalam minat pada anatomi manusia. Orang membedah manusia yang telah mati untuk mengetahui bagaimana susunan tubuh itu. Sangat penting bagi ilmu kedokteran atau kesenian.
Jaman Renaisans juga telah membawa orang ke bulan. Atau juga ke Hiroshima dan Chernobyl.
Renaisans juga mempunyai pandangan baru mengenai alam. Alam dianggap sebagi hal yang positif. Pandangannya adalah bahwa Tuhan hadir dalam ciptaannya. Jika memang Ia tak terbatas pastinya ada dalam segala sesuatu (gagasan Panteisme). Filosof abad pertengahan mempunyai gagasan bahwa ada tirai yang tak dapat ditembus Antara Tuhan dan Ciptaan. Dapat juga dikatakan bahwa alam itu ilahi, dan bahkan ia merupakan ‘jelmaan Tuhan’. Gagasan semacam ini tidak selalu dengan baik oleh geraja.
Pada zaman Renaisans, yang dinamakan antihumanisme pun berkembang (kekuasaan otoriter Negara dan Gereja. Pada masa itu para wanita pe-nyuhir, sihir dan takhayul diadili. Membakar para penganut bid’ah, pe-rang-perang keagamaan yang bersimbah darah dan yang tidak kalah dari semua itu, penaklukan yang sangat kejam atas Ame-rika.
Renaisans juga menimbulkan semangat keagamaan baru. Ketika filsafat dan ilmu pengathuan lambat laun memisahkan diri dari teologi, berkembanglah suatu kesalehan Kristen yang baru. Hubungan pribadi individu dengan Tuhan kini lebih penting daripada hubungannya dengan gereja sebagai suatu organisasi.
Rene Descartes
Rene Descartes adalah filsuf Perancis (1596-1650) yang pernah tinggal di beberapa Negara di Eropa. Descartes percaya bahwa pengetahuan itu hanya dapat dicapai melalui akal. Kita tidak pernah dapat mepercayai apa yang dikatakan pada kita oleh buku-buku kuno. Kita bahkan tidak boleh mempercayai apa yang dikatakan pada kita oleh indra kita sendiri. Descartes merupakan seorang yang rasionalis, ia yakin bahwa akal adalah jalan satu-satunya menuju pengetahuan. Descartes adalah bapak filsafat modern.
Sistem filsafat adalah filsafat yang disusun dari dasar dan yang berusaha untuk menemukan penjelasan bagi pertanyaan-pertanyaan penting mengenai filosofi. Setelah abad ketujuh belas para filosof berusaha untuk memasukkan gagasan-gagasan baru ke dalam system filsafat yang jernih, dan yang pertama mengusahakannya adalah Descartes. Karya-karyanya merupakan pelopor dari apa yang merupakan proyek filsafat paling penting pada generasi-generasi mendatang.
Descartes menyatakan bahwa kita tidak dapat menerima apa pun sebagai sesuatu yang benar kecuali jika kita dapat dengan jelas dan tegas memahaminya. Untuk mencapainya dibutuhkan upaya untuk memecahkan suatu masalah yang sulit menjadi potongan kecil sebanyak mungkin. Selanjutnya kita dapat mengambil titik tolak dalam gagasan yang paling sederhana.
Descartes mutlak meragukan segala sesuatu, dan itulah yang ia yakini. Sesuatu hal yang pasti benar, bahwa dia ragu. Ketika dia ragu, dia pasti sedang berpikir, dank arena ia berpikir, pastilah bahwa ia seorang makhluk yang berpikir. Atau, “Cogito, ergo sum”: Aku berpikir, karena itu aku ada”.
Nah, kalau kembali ke jaman modern kita ini. Katanya Manusia adalah makhluk berpikir? Kok malah justru merusak alam dan hutan? Jadi kita ini sebenarnya siapa? Masih pantaskah kita disebut makhluk yang berpikir?
Barush Spinoza
Lalu kita lanjutkan lagi dengan kisah Alberto dan Sophie. Ada beberapa filsuf lainnya yang berpengaruh terhadap filosof besar lainnya. Baruch Spinoza asal Yahudi. Pemikirannya adalah bahwa ia percaya agama Kristen dan Yahudi hanya dihidupkan oleh dogma yang kaku dan ritual lahiriah. Spinoza orang pertama yang menerapkan apa yang kita sebut penafsiran historis-kritis atas Bibel. Dia mengatakan bahwa dunia itu ada dalam diri Tuhan. Segala sesuatu adalah alam. Dia menyamakan alam dengan Tuhan. Berkat pikirannya itu ia ditinggalkan oleh keluarganya sendiri. Mereka mencabut hak warusnya atas dasar tuduhan bid’ah. Lainnya karena dianggap mengecam agama yang telah mapan, ia dikutuk dan dihukum mati karena gagasannya itu.
Kembali kepada Sophie lagi. Beberapa akhir belakangan Sophie terlihat sibuk sekali sampai-sampai melewatkan makan malam bersama ibunya hanya untuk menemui Alberto. Kata ibu, tidak wajar seorang gadis kecil menemui pria yang lebih tua seperti itu. Lalu ibu ingin sekali bertemu dengan Alberto. Ingin tahu bagaimana rupanya. Lalu Sophie memberikan ibu sebuah cd video rekaman dari Alberto Knox sedang berapa di Athena dan sedang menjelaskan sejarah filsuf.
Akhir belakangan ini juga Sophie semakin terteror dengan surat-surat oleh sang Mayor di Lebanon. Sophie sampai saat ini tidak mengerti kenapa ayah dari anak yang bernama Hilde selalu mengirimkan surat ke alamat rumah Sophie. Padahal tentu saja Sophie tidak mengenal anak yang bernama Hilde dan sang ayah yang sedang berada di Lebanon. Dan anehnya ayah Hilde selalu memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk Hilde lewat surat yang diberikannya bertepatan beberapa hari sebelum pesta perayaan ulang tahun Sophie akan berlangsung. Karena Sophie dan Hilde berulang tahun dihari yang sama. Aneh bukan?
Disisi lainnya, Hilde mendapat kado ulang tahun berupa surat panjang yang berceritakan tentang Sophie dan Alberto. Sungguh aneh bukan? Hilde menyangka apakah Sophie dan Alberto itu benar-benar ada? Membaca kisah Sophie dan Alberto membuatnya tidak makan seharian. Dan tentunya bolos sekolah pada hari akhir masa liburan. Apakah Hilde segera bertemu dengan Sophie? Apakah Sophie juga akan bertemu dengan Hilde? Mereka sedang kebingungan.
Dibuku Dunia Sophie yang di tulis oleh Justein Gaarder bercerita tentang ayah dari anak yang bernama Hilde yang menulis sebuah buku yang berjudul Dunia Sophie untuk hadiah ulang tahun anaknya yang ke lima belas tahun. Didalam buku itu sendiri mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis bernama Sophie yang berusia lima belas tahun sama seperti Hilde. Kehidupan Hilde dan Sophie saling berhubungan. Entah dalam kenyataan atau hanya dalam sebuah buku. Didalamnya juga ada tokoh Alberto Knox sebagai pelopor guru filsafat Sophie. Ya pokoknya membahas tentang sejarah filsafat barat.
Terima kasih telah membaca resensi singkat ini.

Komentar
Posting Komentar