“Selamat Panjang Umur”
Tulisan ini saya catat kembali dari buku Dr. Andar Ismail : Selamat Panjang Umur, 33 RENUNGAN TENTANG HIDUP (150 halaman, 33 bab)
Sebuah
buku “Selamat Panjang Umur” adalah sebuah tulisan yang ditulis oleh Dr. Andar
Ismail yang berceritakan kisah-kisah tentang kehidupan yang rumit namun dikemas
didalam kalimat yang sederhana dan mudah dicerna. Banyak sekali pesan yang dapat dipetik sebagai
pelajaran
dalam mencerahkan dan menghadapi berbagai persoalan. Dan bukan hanya mencerahkan dalam menghadapi persoalan, tetapi juga sekaligus membuka pikiran-pikiran yang tertutup untuk berpikir luas dan berkualitas tinggi, namun baik untuk memaknai kehidupan lebih berharga dan mempunyai arti yang dalam untuk kehidupan itu sendiri juga dimuliakan dihadapan Allah.
dalam mencerahkan dan menghadapi berbagai persoalan. Dan bukan hanya mencerahkan dalam menghadapi persoalan, tetapi juga sekaligus membuka pikiran-pikiran yang tertutup untuk berpikir luas dan berkualitas tinggi, namun baik untuk memaknai kehidupan lebih berharga dan mempunyai arti yang dalam untuk kehidupan itu sendiri juga dimuliakan dihadapan Allah.
Mari
kita mulai dengan mengupas kata dibalik kalimat yang tertulis itu; Ada banyak
dikehidupan kita masing-masing yang terlihat biasa-biasa saja. Mungkin juga
hanya kejadian-kejadian sepele. Namun bahwa sesungguhnya melalui hal-hal yang
mungkin kita anggap sebagai hal sederhana dan sepele itu, justru menyadarkan
dan mengajar kita untuk belajar. Belajar untuk lebih peka kepada kehidupan. Baik
untuk diri kita sendiri dan juga orang-orang disekitar kita. Sebab dengan
belajar, maka kita akan melihat kehidupan dengan pandangan yang lebih berwarna.
Belajar untuk menjalani dan mensyukuri
kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dan harus bagaimana menghadapi persoalan
dengan pikiran lebih terbuka. Hidup menjadi lebih bermakna ketika bagaimana
kita memandang hidup dan menjalankan kehidupan dengan bijak. Misalnya, kualitas
hidup manusia haruslah lebih tinggi dari hewan atau binatang. Kenapa begitu? Persamaan
antara keduanya adalah hewan dan manusia sama-sama menjalani rutinitasnya
sebagaimana ia. Yang membedakan kualitas antara kehidupan hewan dan manusia
adalah adanya melakukan perenungan-perenungan untuk memujudkan semacam visi, pencapaian-pencapaian
pribadi. Yang diketahui bahwa manusia dapat melakukannya. Tidak tahu dengan
hewan atau binatang apakah mereka dapat melakukannya juga? Belajar yang baik
adalah dari kehidupan yang harus dilakukan seumur hidup atau sepanjang nafas
yang bisa kita hirup. Bahkan sampai tubuh ini tidak sanggup lagi untuk berbuat
banyak hal lagi.
Kehidupan
seseorang tidak bisa di ukur dengan berapa panjang usia selama ia hidup atau
seberapa harta benda yang ia dapatkan. Tetapi bagaimana ia menjalani kehidupan
itu. Yesus anak Allah wafat pada usia ke-33 tahun. HidupNya pendek bukan? Tapi
lihatlah bagaimana Ia mengisi kehidupannya. HidupNya hanya untuk menolong dan
memberi kepada orang lain. Ia tidak mengharapkan imbalan. Mengajar orang lain
lewat ceramahNya, menyembuhkan orang sakit. Bahkan Ia rela mati untuk demi
kepentingan umat manusia. KehidupanNya menjadi berarti ketika ada sesuatu yang
sudah dicapai dalam hidupNya. Yaitu mengarahkan hidupnya kepada Allah BapaNya
dan juga orang-orang diluar dirinya, itulah kedalaman hidup seseorang.Usia
bukan menjadi alat ukur. Yang harus diperhatikan adalah kedalaman hidup itu
sendiri, bukan memfokuskan kepada diri sendiri tetapi kepada orang lain diluar
diri dan Allah.
Hidup
tidak berarti tanpa adanya sukacita didalamnya. Mulailah dengan bersikap
positif dan berpikir positif. Meskipun banyak mengalami kegagalan bahkan
kekecewaan, jatuh bangun, manis pahitnya dalam menjalani kehidupan. Percaya
bahwa Allah juga turut bekerja, dan maksud Allah adalah baik. Sebab ada
tertulis dalam kesaksian Rasul Paulus di Roma 8:28, “...Allah turut bekerja
dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi
Dia...” “Segala sesuatu” berarti segala keadaan atau segala kejadian, baik
keberhasilan maupun kejatuhan. Kejatuhan dapat berbentuk musibah, penyakit atau
kegagalan untuk mendatangkan kebaikan.[1] Allah
turut bekerja bukan berarti manusia bebas bermalas-malas dan tidak
memperjuangkan kehidupannya. Manusia yang bekerja dan menjalankan kehidupan,
Allah turut bekerja mengambil sisanya.

Komentar
Posting Komentar