Helenisme - "Dunia Sophie" Part 06



Helenisme

Meninggalnya Aristoteles pada 322 SM saat itu Athena telah kehilangan peran dominannya. Pemberontakan-pemberontakan politik akibat
penaklukan Alexander Agung (356-323 SM). Alexander adalah Raja Mecedonia. Ia salah satu murid dari Aristoteles. Alencander meraih kemenangan terakhir dan menentukan atas bangsa Persia. Ia menyatukan Mesir dan dunia timur hingga India dengan peradaban Yunani.
Ini merupakan tanda awal zaman peradaban baru dalam sejarah umat manusia. Kebudayaan dan Bahasa Yunani memainkan peranan utama. Kira-kira berlangsung selama 300 tahun dan dikenal sebagai Helenisme yang berarti periode atau kebudayaan di dominasi Yunani yang Berjaya untuk tiga kerajaan Yunani yaitu Macedonia, Syria, dan Mesir.
Meskipun demikian sejak sekitar 50 SM, Roma lambat-laun menaklukkan Yunani. Karena lebih kuat dalam bidang militer dan politik. Sejak itu kebudayan Romawi dan Bahasa Latin mendominasi mulai dari Spanyol  hingga menembus Asia. Ini awal dari periode Romawi sebagai zaman Yunani Kuno Akhir.

Dalam peradaban baru, upaya untuk menemukan apakah kebahagiaan sejati itu dan bagaimana mencapainya. Inilah proyek filsafat yang utama. Kita akan segera mengenalnya.

Kaum Sinis
Betapa banyak benda yang tidak kuperlukan!?
Pertanyaan itu bisa jadi merupakan motto aliran filsafat Sinis yang didirikan Antisthenes di Athena sekitar 400 SM. Ia pernah manjadi murid Socrates dan dangat tertarik pada kesederhanaan. Kaum Sinis berpendapat bahwa kebahagiaan tidak terdapat kepada kewewahan materi atau kekuasaan atau kesehatan. Mereka percaya bahwa orang tidak perlu memikirkan kesehatan diri mereka, apalagi penderitaan dan kematian tidak boleh mengganggu mereka. Bahkan tidak boleh membiarkan diri tersiksa karena memikirkan kesengsaraan orang lain. Namanya Diogenes, ia adalah seorang murid dari Antisthenes. Konon ia hidup dalam tong dan tidak memiliki apapun kecuali mantel, tongkat, dan kantung roti. Ketika ia sedang berjemur di samping tongnya untuk menikmati sinar matahari. Kemudian Raja Alexander Agung datang berkunjung. Ia berkata apa yang dapat ia perbuat untuk membantu Diogenes. Lalu Diogenes berkata, bisakah kau bergeser sekikit, karena kau telah menghalangi sinar matahari. Istilah “sinis” dan “sinisme” yang berarti ketidakpercayaan yang mengandung cemooh pada ketulusan manusia, menunjukkan ketidakpekaan terhadap penderitaan orang lain. Yang berarti tidak mau susah.

Kaum Stoik
Kaum Stoik membentuk konsep “humanisme” yaitu suatu pandangan hidup yang menempatkan individu sebagai fokus utamanya. Mereka benar-benar “kosmopolitan”. Bahwa mudah menerima kebudayaan kontemporer. Memberikan perhatian pada persahabatan manusia, sibuk dengan politik. Meraka pikir bahwa ada sesuatu kebenaran universal, yang dinamakan hukum alam. Mereka menekankan semua proses alam, penyakit dan kematian, mengikuti hukum alam yang tak pernah lekang.

Kaum Epicurean
Motto kaum Epicurus adalah “Hidup untuk saat ini!” Negatifnya adalah seseorang yang hidup hanya demi kesenangan. Kaum Epicurus tidak menunjukkan minatnya kepada politik dan masyarakat. Hidup mereka hanya mengasingkan diri dan menikmati kesenangan. Mereka hidup hanya untuk diri mereka sendiri di “pelabuhan yang aman” jauh dari masyarakat. Filsafat pembebasannya adalah Dewa-dewa bukan utnuk ditakuti. Kematian tidak perlu dikhawatirkan. Kebaikan itu mudah dicapai. Ketakutan itu mudah ditanggulangi. 

Neoplatinisme
Tokoh kaum Neoplatonisme adalah Plotinus (kira-kira 205-270). Plotinus membawa ke Roma suatu doktrin keselamatan yang bersaing keras dengan ajaran Kristen. Tapi juga memberi pengaruh kuat dalam aliran utama teologi Kristen. Segala sesuatu atau segala yang terjadi itu menyimpan sepercik misteri ilahi. Bayangkan kita sedang melihat bunga, ikan yang berenang, kupu-kupu yang terbang. Bukankan itu adalah misteri ilahi? Tetapi yang paling dekat dengan Tuhan adalah jiwa kita. Hanya disana kita dapat menjadi satu dengan misteri besar kehidupan. Dan kaum Neoplatonisme menyadari bahwa kita sendirilah misteri itu. 

Pengalaman mistik adalah pengalaman menyatu dengan Tuhan atau “jiwa kosmik.” Mereka mengalami rasa “penyatuan dengan Tuhan”. Sebagian ahli mistik menyebutnya Tuhan, ada yang bilang ruh kosmik Alam, atau Semesta Raya. Ketika penyatuan terjadi, ahli mistik merasakan bahwa dia “kehilangan dirinya;” ia lenyap ke dalam diri Tuhan atau hilang di dalam diri Tuhan. Menyadari bahwa ia adalah sesuatu yang jauh lebih besar. “Kamulah semesta raya, sesungguhnya kamulah ruh kosmik itu sendiri. Kamulah yang “menjadi Tuhan”.

Nilai yang saya ambil dari para kaum-kaum leluhur adalah hidup bukanlah semata-mata untuk uang atau memuaskan keinginan daging, seperti kaum Epicurus. Atau tidak  Walaupun itu juga diperlukan untuk bertahan hidup.

Komentar

Postingan Populer