Filosof Alam "Dunia Sophie" Part 03
Filosof Alam
Filosof Yunani paling awal disebut
dengan filosof alam. Sebab mereka hanya fokus kepada alam dan proses-prosesnya.
Filsuf dari Miletus ialah Thales,
Anaximander, Anaximenes. Thales berpendapat bahwa sumber dari segala sesuatu
adalah air. Ia beranggapan seluruh
kehidupan berawal dari air dan kembali berakhir menjadi air. Berikutnya adalah Anaximander, ia berpendapat bahwa dunia kita hanyalah salah satu dari banyak sekali dunia yang muncul dan sirna di dalam sesuatu yang disebutnya sebagai yang tak terbatas.[1] Dan yang ketiga adalah Anaximenes, ia beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu pastilah “udara” dan “uap”.[2] Seperti yang telah dikatakan Thales, bahwa segala sesuatu berawal dari air, tapi dari manakah air itu? Semuanya beranggapan pasti bahwa ada sesuatu zat dasar dari sumber segala sesuatu.
kehidupan berawal dari air dan kembali berakhir menjadi air. Berikutnya adalah Anaximander, ia berpendapat bahwa dunia kita hanyalah salah satu dari banyak sekali dunia yang muncul dan sirna di dalam sesuatu yang disebutnya sebagai yang tak terbatas.[1] Dan yang ketiga adalah Anaximenes, ia beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu pastilah “udara” dan “uap”.[2] Seperti yang telah dikatakan Thales, bahwa segala sesuatu berawal dari air, tapi dari manakah air itu? Semuanya beranggapan pasti bahwa ada sesuatu zat dasar dari sumber segala sesuatu.
Tidak ada yang dapat muncul dari
ketiadaan. Itulah anggapan dari Parmenides (kira-kira 540-480SM). Dia
berpendapat bahwa indera-indera kita ini tidak memberikan gambaran yang pasti,
sesuatu yang tidak sesuai dengan akal.
Berbeda dengan Parmenides,
Heraclitus berpendapat segala “sesuatu terus mengalir”. Segala sesuatu
mengalami perubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tidak ada yang menetap.[3]
Segala sesuatu yang merupakan sumber dari segala sesuatu, ia menyebutnya Tuhan
atau logos, yang berarti akal. “Tuhan
adalah siang dan malam, musim salju dan musim panas, perang dan damai,
kelaparan dan kekenyangan”.
Antara Parmenides dan Heraclitus ada
dalam satu hal mereka bertentangan, Parmenides mengungkapkan tidak ada sesuatu
yang dapat berubah, sedangkan Heraclitus menegaskan bahwa alam selalu berubah.
Jadi manakah yang paling benar? Apakah harus mendahulukan akal atau indra? Nah,
didalam hal rumit ini Empedocles (kira-kira 490-430SM) berperan menguraikan
kekacauan ini. Disatu sisi bahwa anggapan mereka adalah benar, namun di sisi
lain mereka salah. Parmenides benar, keyakinannya akan tidak ada sesuatu yang
berubah. Air murni tidak dapat berubah menjadi kupu-kupu misalnya. Namun, Heraclitus
juga benar, apa yang kita lihat dengan indra bahwa alam berubah. Yang menjadi
perselisihan adalah bahwa mereka memperdebatkan hanya satu unsur saja.
Empedocles berpendapat bahwa alam itu terdiri dari empat unsur, istilahnya
adalah tanah, udara, api, dan air. Pada dasarnya, tidak ada yang
berubah. Yang terjadi hanya keempat unsur itu tergabung dan terpisah, --- untuk
menjadi tergabung lagi.[4]
Anaxagoras (500-428SM) filsul
pertama dari Athena. Ia dituduh sebagai seorang ateis dan dipaksa meninggalkan
kota. Ia mengatakan matahari bukanlah dewa melainkan sebuah batu merah-panas,
yang lebih besar dari seluruh jazirah Peloponesia. Anaxagoras tidak setuju bahwa satu bahan dasar tertentu
dapat diubah menjadi segala sesuatu yang kita lihat di alam. Dan ia juga tidak
menerima pendapat bahwa tanah, udara, api, dan air dapat diubah menjadi darah
dan tulang. Anaxagoras berpendapat alam diciptakan dari partikel-partikel
sangat kecil yang jumlahnya tidak dapat dilihat mata. Bagian-bagian kecil itu
menjadi bagian-bagian yang jauh lebih kecil lagi. Pada keseluruhan sebenarnya
Anaxagoras lebih tertarik kepada astronomi, dia mempunyai penjelasan mengenai
gerhana matahari. Filsuf alam terakhir adalah Democritus. Ia adalah seorang
materialis, dia percaya pada atom dan luar angkasa. Gagasannya bahwa segala
sesuatu terjadi secara mekanis.


Komentar
Posting Komentar