Part 04 - "Dunia Sophie"



Kedengarannya Sophie pun masih menyimak pelajaran Filsafatnya. Perlu pemahaman yang lebih besar dalam pelajaran filsafat ini. Sebagai bukti bahwa ia masih berusaha. Sebab orang yang pemahanan baik adalah orang yang mau
berusaha, ia bukan seorang yang pintar, ia hanya perlu sedikit memaksa untuk berusaha. Setelah pada akhirnya sang guru memperkenalkan dirinya sebagai Alberto Knox.  Hal lainnya, tetap saja surat yang menyatakan dari PBB di Lebanon oleh ayah Hilde itu semakin membingungkannya. Mana ada seorang ayah yang tega memberikan surat kepada anaknya dengan mengirimkan ke alamat orang lain yaitu Sophie sendiri yang sama sekali ia tidak mengenalnya. Dan Sophie memutuskan bahwa filsafat bukanlah sesuatu yang dapat kita pelajari; namun barangkali kita dapat belajar untuk berpikir secara filosofis.[1]
Apakah anda percaya takdir? Sophie sepertinya juga meragukan bahwa adanya takdir. Orang-orang Yunani kuno sangat percaya kepada fatalisme. Fatalisme adalah kepercayaan kepada apapun yang terjadi telah ditentukan. Orang-orang dapat mengetahui nasib dari semacam ramalan, membaca nasib melalui kartu, tangan, atau meramal masa depan lewat bintang-bintang.
Satu lagi adalah Hippocrates, pendiri ilmu pengobatan dari Yunani. Jiwa yang sehat di dalam badan yang sehat; gagasan Hippocrates. Jika penyakit datang, menurut Hippocrates itu merupakan tanda bahwa Alam telah melenceng dair jalurnya dikarenakan adanya ketidakseimbangan fisik atau mental.


[1] Opcit, hal 57.

Komentar

Postingan Populer