Tiga Filosof Besar - "Dunia Sophie" Part 05



Tiga Filosof Besar

Kita mulai lagi dengan tiga filosof klasik besar, Socrates, Plato, dan Aristoteles. Para filosof ini mempengaruhi seluruh peradaban Eropa. Baiklah,
Sokrates adalah tokoh paling penuh dengan teka-teki. Ia tidak pernah menulis sebalit kalimat pun. Kehidupan Socrates hanya dapat diketahui melalui tulisan-tulisan Plato, salah seorang muridnya.  Socrates lebih berminat kapada masalah manusia ketimbang alam. Ia lebih memanfaatkan waktunya untuk berdiskusi dengan setiap orang yang ditemuinya di alun-alun Athena. Yang dapat ia pahami adalah bahwa ia tidak tahu apa-apa. Bukankah begitu? Seorang Filosof mengetahui bahwa sangat sedikit yang mereka ketahui. 

Filosof sendiri yang berarti mencintai kebijaksanaan. Yang membedakan seorang filosof dan seorang guru disekolah adalah bahwa seorang guru merasa dirinya sudah tahu segala hal dan ajarannya hanya seperti menyuapi murid-muridnya dengan ajarannya. Sedangkan seorang filosof adalah bahwa ia sadar bahwa tidak banyak yang diketahuinya, maka ia mengajak untuk berdiskusi bersama murid-muridnya agar sama-sama saling belajar. Karena tidak ada yang lebih pintar dari yang lebih pintar dan dari yang jauh lebih pintar lainnya. Karena setiap manusia diwajibkan untuk memahami kehidupan dari hidup itu sendiri. Hal itu juga yang dilakukan oleh Socrates. Ia tidak menonjolkan dirinya paling bijaksana atau pintar. Ia hanya berdiskusi segala berbagai permasalahan. Ia juga memprotes peraturan atas hukuman mati pada orang yang didakwa pada era itu di Athena. Dan pada akhirnya Socrates ditakwa “memperkenalkan dewa-dewa baru dan merusak kaum muda,” serta tidak mempercayai dewa-dewa yang telah diterima. [1] Hukumannya bisa dihapuskan dengar syarat bahwa ia harus pergi dari Athena. Tetapi Socrates lebih memilih tinggal, sebab jika ia pergi ia bukanlah Socrates. Kemudian ia meminum racun didepan sahabat-sahabatnya dan meninggal.

Kemudian Plato, ia adalah salah satu murid Socrates. Berkatnya, kita dapat mengenal siapa Socrates dan gagasannya dalam tulisan Plato. Plato juga mendirikan sekolah filsafat Yunani Academus. Karena itu sekolah dikenal sebagai akademi. Ia memakai metode diskusi sebagai caranya mengajar. Plato terlalu mengedepankan “ide-ide”, sehingga ia lupa memperhatikan perubahan-perubahan alam. Nah, beda dengan Aristoteles, ia sibuk memperhatikan perubahan-perubahan alam, yang disebut dengan proses alam. Aristoteles adalah filosof besar terakhir. Ia menjadi murid di Akademi Plato hampir dua puluh tahun. Aristoteles adalah ahli biologi besar Eropa yang pertama.

Yang dapat saya pelajari dari semacam sesi kuliah ini; Manusia adalah binatang yang berpikir. Jadi kalau manusia tidak berpikir sesungguhnya ia bukanlah manusia sungguhan. Kenapa disebut binatang yang berpikir? Manusia dan hewan sama-sama punya ekor, yang membedakannya hanya hewan menciut keluar sedangkan manusia menciut kedalam. Apa bedanya dengan sipanse? Lalu, di era modern seperti sekarang ini tujuan kebanyakan manusia adalah mementingkan kehidupan mereka sendiri tanpa berpikir akan tugas untuk menjaga alam dan melindungi alam. Justru manusia malah tidak menghargai alam, merusak hutan, merusak lahan hijau, membakar hutan, untuk demi kepentingan manusia, kepentingan ego tok. Justru, binatang saja menjaga dan melindungi hutan dan tumbuhan, lalu siapakah sebenarnya kita? Apakah level kita ini lebih rendah dari binatang?


[1] Opcit, hal 58.

Komentar

Postingan Populer